[Happy] Ending! (Part 3 - end)
Wattpad: @zyrshr
"Hari ini, saya akan mengadakan acara pertunangan cucu pertama dari keluarga Oh, yang sekaligus akan menjadi penerus perusahaan Oh."
Mendengar ucapan Kakek Sehun, sebagian tamu yang selain keluarga Oh mengungkapkan keterkejutan mereka.
Karena seperti yang pernah Sehun katakan sebelumnya, Sehun merupakan salah satu orang yang tidak begitu disukai oleh para pemegang saham perusahaan Oh karena cara Sehun mengatur perusahaan, berbeda dari sebagian para pemegang saham inginkan.
Walaupun bukan merupakan cara kerja yang buruk, tapi cara kerja Sehun dapat dibilang terlalu baik bagi sebuah perusahaan.
Dan aku tentu saja refleks menoleh pada Sehun. Ternyata disini aku harus menutupi ekspresi keterkejutanku.
Aku memperhatikan sekelilingku. Ada beberapa orang yang bukan Keluarga Oh yang juga tidak terkejut dengan berita ini.
Aku melihat salah satunya seorang wanita seusiaku, sepertinya dari Keluarga Kim yang tadi dikatakan Kakek Sehun. Membuatku gelisah akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pikiran-pikiran negatif yang sudah ada sebelumnya kembali muncul.
Aku takut.
Aku takut tidak bisa menerima ini.
Setelah mengatakan hal itu, orang-orang mulai menikmati acaranya.
Ada yang berbincang-bincang mengenai bisnis, membicarakan mengenai pertunangan cucu Oh, ada juga yang langsung mengatakan ucapan selamat pada Sehun mengenai pertunagannya yang akan terjadi.
Selagi Sehun berbincang dengan "teman-teman"nya ataupun rekan kerjanya, aku pergi ke sebuah meja yang menyediakan minuman disana.
Meneguk langsung segelas minuman yang sepertinya sampanye.
Selagi melihat orang-orang yang sedang asik berbincang-bincang, aku melihat Kakek Sehun sedang berjalan menuju arahku.
Begitu ia sampai di depanku, aku memberinya salam.
"Selamat siang Tuan Oh," kataku sambil menundukkan kepalaku.
"Jadi kau, wanita yang membuat Sehun rela melepaskan warisannya?"
Aku bingung dengan ucapannya, "Maaf? Saya tidak...-"
"Apa pekerjaanmu?" Tanyanya dengan sikap tegasnya, membuatku segan melihatnya.
"Saya seorang Editor Majalah Fashion," jawabku.
"Sudah berapa lama berhubungan dengan Sehun?"
"Sudah hampir sekitar 6 tahun."
"Kau mencintai Sehun?"
"Ya. Saya mencintainya."
"Walaupun dia akan menikah dengan orang lain?"
Aku terdiam sejenak. Mengumpulkan kekuatanku untuk kembali berbicara.
"Dia tidak akan menikah dengan orang lain," jawabku tegas, menurutku.
"Bagaimana kau meyakini itu?"
"Sehun mencintaiku."
"Jika kau sudah bersamanya selama 6 tahun, kau pasti tahu bagaimana sifat Sehun bukan?"
Ya, aku tahu. Kataku dalam hati.
"Dia bukan orang yang bisa kau tebak apa yang akan dia pilih," lanjutnya, "Walaupun dia mencintaimu melebihi keluarganya, kau tidak akan tahu siapa yang akan dia pilih nantinya."
"Ya, saya mengerti maksud anda Tuan. Kita sama-sama tidak akan tahu apa yang akan Sehun pilih. Walaupun dia lebih mencintaiku, walaupun dia lebih memilih keuarganya."
Tuan Oh, Kakek Sehun melihatku dengan tegas. Entah apa maksud dari tatapannya, tapi tatapannya membuatku goyah. Keberanianku seperti sudah hilang sekarang.
"Perkataan yang bagus nona," katanya lalu pergi.
Aku melihatnya pergi.
Aku harap perkataanku tidak salah.
Setelah berbincang denganku, aku melihat Tuan Oh mengajak Sehun pergi. Entah kemana. Mungkin ke tempat yang lebih pribadi.
Tubuhku mulai goyah. Aku merasa lemas. Aku sangat ketakukan. Aku takut Sehun memilih hal yang tidak terduga. Seperti biasanya.
Walau hubungan Kami sudah terjalin cukup lama, tapi menurutku itu tidak menjamin Sehun akan memilihku untuk menjadi wanita terakhir dalam hidupnya.
Walaupun aku mengenal Sehun adalah seseorang yang baik, jujur, dan juga setia. Itu tidak menjamin dia tidak akan mengakitiku.
**
Setelah beberapa lama Sehun dan Tuan Oh tidak terlihat akhirnya mereka kembali muncul dan langsung menuju tengah ruangan.
Kali ini aku merasa tahu apa yang akan dikatakan Tuan Oh.
Para tamu mulai diam dan mengelilingi mereka, seperti sudah tahu akan ada berita lagi.
Ibu Sehun menghampiriku, Aku merasakan tangannya mengelus punggungku lembut. Aku tersenyum padanya. Kami berdua sama sama antisipasi akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Seperti yang sudah saya katakan. Bahwa hari ini adalah hari pertunangan cucu pertama keluarga Oh," ucap Tuan Oh membuka pembicaraan. "Maka dari itu, saya akan perkenalkan, Wanita yang akan bertunangan dengannya. Nona Bae, kemarilah...." Panggilnya melihat kearahku.
Seketika aku membeku, 'Nona Bae? Apa maksudnya aku? Kenapa aku dipanggil? Apa aku akan dipermalukan di depan umum? Seperti yang ada pada drama drama korea?'
Aku juga melihat Sehun yang terkejut ketika Kakeknya menyebut nama Keluargaku. Sudab kuduga, ini bukan keputusan yang tidak direncanakan sebelumnya.
Ibu Sehun tersenyum padaku, menyuruhku untuk segera menghampiri Sehun dan Kakeknya.
Aku mulai berjalan mendekati mereka, aku merasakan orang orang yang ada disana sedang melihatku. Aku menundukkan kepalaku.
Aku berdiri di sisi berlawanan drngan Sehun, Kakek Sehun yang menggiringku kesana.
Kemudian Kakek Sehun kembali berbicara, "Mereka berdua akan bertunangan." Katanya mempertegas perkataan sebelumnya.
Aku menoleh pada Kakek Sehun, merasa tidak yakin apa yang aku dengar ini benar.
Semua orang yang datang bertepuk tangan meriah, beberapa orang tersenyum mendengarnya, beberapa orang membicarakan keputusan Tuan Oh yang memasangkan Sehun dengan Aku.
Aku melihat Sehun. Sehun yang juga terkejut kemudian tersenyum, ia menghampiriku. Memegang tanganku kemudian menyematkan cincin di jari manisku.
Aku tersenyum, mataku mulai berkaca-kaca. Aku sudah tidak bisa menahannya, aku sangat ingin memeluknya pria ini.
Alasanku ingin memeluknya bukan karena senang karena akhirnya kita bertunangan. Tapi aku senang karena aku tidak akan kehilangannya.
Aku memeluknya erat. Sangat erat. Lebih erat dari yang sebelumnya.
"Jangan merusak make-up mu, kau masih harus bertemu dengan banyak orang," bisik Sehun ketika kami berpelukan. Aku tersenyum kecil mendengarnya, ucapannya selalu menghiburku.
***
Setelah pemberitaan pertunangan itu pesta kembali dilanjutkan.
Orang-orang menghampiri Kami berdua untuk sekedar mengucapkam selamat.
Sampai waktunya tiba, para tamu satu persatu pulang. Anggota keluarga besar Oh juga satu persatu pulang. Sebelum pulang, aku dan Sehun diminta untuk kembali bertemu Tuan Oh.
"Duduklah," pinta Kakek Sehun begitu kami berdua masuk ke ruangannya.
Kami berdua pun duduk berdampingan di salah satu kursi sofa panjang disana.
Kakek Sehun memperhatikan kami berdua, bergantian.
Kemudian memulai pembicaraannya, "Cara Sehun bekerja di perusahaan berbeda dari orang-orang terdahulunya. Dia hampir merubah semua sistem kerja dalam perusahaan. Awalnya saya ragu dan marah akan keputusan yang Sehun amnil. Namun seiring berjalannya waktu, keputusan-keputusan yang Sehun ambil ternyata mampu membuat perusahaan berkembang lebih cepat."
"..."
"Keberanian yang kau lakukan hari ini Nona Bae, mengingatkanku akan keberanian Sehun ketika itu. Saya telah mempercayai Sehun memegang sesuatu yang juga milik saya, lalu mengapa saya harus khawatir akan sesuatu yang akan menjadi miliknya(?). Sejauh ini Sehun telah berhasil akan keputusan-keputusan yang dia ambil. Aku harap keputusan kali ini pun kau berhasil Oh Sehun." Katanya mengakhiri ucapannya.
Aku dan Sehun masih melihat pada Tuan Oh.
"Kau tidak salah telah mempercayai keputusanku Tuan Oh," kata Sehun menggenggam tanganku.
***
Sepulang dari sama, kami memutuskan untuk melakukan perjalan ke Pantai. Pantai yang paling dekat dari kota Daegu. Perjalanan atas permintaan Sehun yang begitu tiba-tiba.
Melihat ekspresinya yang begitu bersemangat ketika mengajakku, membuatku tidak bisa menolaknya.
Kami tertawa, bernyanyi, dan membahas kejadian hari itu. Sama-sama tersenyum menyadari jika Kami kini sudah bertunangan.
Sehun menggenggam tanganku erat sambil tersenyum melihatku.
Aku tersenyum melihatnya tersenyum.
Senyuman yang aku pikir akan menjadi awal yang membahagiakan bagi Kami, ternyata senyuman yang menjadi akhir dari kebahagiaan Kami.
Senyuman untuk merelakan.
Senyuman mengikhlaslan.
Senyuman berpamitan.
Senyuman yang membahagiakan itu, terlalu tulus untuk dibentuk.
Tidak heran mengapa akhirnya Kami berpisah.
**
Tepat ketika Kami tersenyum, sebuah Bus menabrak mobil yang Kami gunakan dari belakang hingga membalikkan mobil.
Benturan yang keras melukai kepala Kami.
Tangan Sehun terluka parah, aku hanya terluka pada bagian kepala.
Bus yang menabrak Kami pun terguling.
Benar-benar terjadi kecelakaan besar pada hari itu disana.
Pengendara maupun pejalan kaki yang melihat kejadian tersebut segera menelfon rumah sakit, ada juga yang menelfon polisi melaporkan adanya kecelakaan.
**
Aku ingat aku membuka mataku ketika mobil Kami telah terguling. Aku melihat Sehun yang sepertinya sudah tak sadarkan diri. Aku mencoba bergerak untuk menyelamatkan Sehun, tapi ternyata benturan yang terjadi padaku telah membuatku sangat lemah.
**
"Ada pendarahan pada kepalanya. Kami tidak ingin mengambil resiko untuk mengoprasinya, ada kemungkinan hanya akan memperparah keadaan pasien," ucap seorang dokter pada Ibu Sehun.
Mataku tidak benar-benar melihat keadaan sekitar, tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas. Sekilas aku melihat seorang pewarat sedang mengobati luka di kepalaku.
Aku melihat Sehun disamping ranjangku, kepalanga telah di perban, tangannya sedang diobati oleh seorang dokter dan perawat.
"Suzy-a.." panggil Ibu Sehun, sebelum aku kembali tak sadarkan diri.
**
Hari ini pun tiba.
Aku melihat banyak orang yang datang mengunjungiku. Tapi aku tidak melihat Sehun, belum melihatnya.
Perkataan orang-orang yang sampaikan padaku aku abaikan. Aku terus melihat ke pintu masuk, berharap Sehun akan datang.
Aku tersenyum.
Dengan tangan yang di gips serta dahi yang di perban, Sehun datang diikuti beberapa orang dibelakangnya.
Sehun menghampiriku tergesa. Begitu berada di depanku, dia terdiam lemah. Menatapku dengan perasaan yang baru aku lihat.
Inginku memeluknya erat.
Aku tersenyum, dengan mata yang telah berkaca-kaca.
Kini air matanya mengalir. Tanpa teriakan, tanpa kata-kata, Sehun meteskan air mata untukku.
Aku melihatnya ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya tak dapat bergerak. Seluruh tubuhnya membeku.
"Sudah saatnya dia pergi. Jangan menyalahkan dirimu Sehun-a. Suzy ingin kau bahagia." Kata Ayah Sehun mengelus pundaknya.
Ucapan Ayah Sehun membuatku sedikit tenang karena telah meninggalkannya.
"Sehun-a, maaf aku tidak bisa menjadi pendampingmu selama sisa umurmu.
Mungkin kita saling mencintai,
tapi mungkin bukan aku orang yang ditakdirkan untukmu.
Jangan berlarut akan kepergianku.
Aku pergi untuk bertemumu lagi nanti. Di waktu ketika kita ditakdirkan untuk bersama.
Jaga diri dan carilah takdirmu.
Jangan gantikan aku, karena aku bukan takdirmu.
Aku menyayangimu
Aku mencintaimu.
Sampai jumpa lagi Oh Sehun."
.
.
.
.End.



Comments
Post a Comment