[Happy] Ending! (Part 1 - feeling)
Sebuah keraguan pada pasangan muncul ketika hubungan itu sudah terjalin cukup lama.
Rasa cinta yang dulu terasa begitu tenang dan indah, tiba-tiba berubah menjadi sebuah rasa yang penuh dengan ambisi dan keegoisan.
Bae Suzy dan Oh Sehun telah menjalin hubungan sejak mereka berada di bangku kuliah.
Berawal dari pandangan pertama, hubungan mereka telah terjalin selama 6 tahun.
Suzy yang menyukai Fashion kini sukses menjadi seorang Editor di salah satu perusahaan majalah fashion di Korea.
Namun, pekerjaan Suzy tidak dapat diterima oleh keluarga besar Oh.
Berlatar belakang keluarga pengusaha yang menjunjung tinggi kebudayaan tradisional Korea, keluarga Oh menginginkan seorang wanita yang bersanding dengan Sehun juga merupakan anak pengusaha dari keluarga yang juga menjunjung tinggi kebudayaan tradisional Korea.
Sehun yang penuh misteri, selalu melakukan hal-hal yang tidak pernah orang-orang duga. Ada kalanya ia melakukan sesuatu yang diekspektasikan, ada kalanya juga ia melakukan sesuatu yang tidak inginkan.
Suzy yang begitu mencintai Sehun hanya bisa menerima keputusan Sehun. Apapun keputusannya.
Ketika sebuah hubungan telah terjalin selama bertahun-tahun. Terkadang hal itu membuatmu merasa gelisah. Takut jika pada akhirnya orang yang selama ini bersama kita ternyata tidak ditakdirkan dengan kita. Apalagi ketika tingkah laku dan kebiasaan sang pasangan tiba-tiba berubah.
Pagi ini aku mendapat telfon dari kekasihku, Oh Sehun. Seperti biasa ia mengucapkan 'Selamat pagi' dan menanyakan rencanaku hari ini, sekaligus mendapatkan hal yang tidak biasa ia lakukan padaku.
Ia membatalkan janji kencan denganku nanti malam dengan alasan ada pertemuan keluarga besar Oh di Daegu, tempat kediaman orang tua dari Ayahnya.
Terkadang terbersit pikiran-pikiran negatif jika Sehun bertingkah berbeda dari biasanya. Membuatku menjadi merasa tidak percaya akan ucapannya. Lalu hal itu juga membuatku berpikir, jika ternyata aku juga berubah.
Aku menjadi mudah tidak percaya pada Sehun, menjadi cepat emosi, dan selalu mencurigainya.
Aku menyibakkan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhku. Bersiap-siap untuk kembali menjalani hari seperti biasanya. Mencoba untuk tidak terlalu memikirkan akan pikiran-pikiran negatif tentang Sehun.
Sebelum pergi ke kantor aku pergi ke Cafe yang biasa aku datangi setiap pagi, membeli secangkir Coklat panas andalan Cafe tersebut. Menyapa sang pelayan, dan beberapa orang yang juga biasa datang ke Cafe itu setiap pagi.
Setelah aku keluar dari Cafe aku bediam diri sejenak di depan Cafe, menghirup udara pagi ini yang terasa begitu segar. "Cuaca indah. Udara segar. Tapi kenapa pikiranku gelisah sekali.." kataku lalu membuang nafas kasar dan melanjutkan perjalalan ke kantor.
Begitu masuk kedalam gedung, identitasku sebagai wanita yang sedang mencurigai kekasihnya berubah menjadi seorang Editor. Aku merupakan salah satu seorang Editor yang bekerja di perusahaan Majalah Fashion di Korea. Aku sangat mencintai pekerjaanku. Bekerja dalam dunia Fashion merupakan salah satu dari ribuan cita-citaku semasa kecil.
Aku masuk kedalam lift, menekan angka 9 yang merupakan lantai tempatku bekerja. Begitu pintu lift tertutup ponselku berdering, menandakan ada panggilan masuk. Begitu aku lihat, itu dari Sehun.
"Kenapa dia cepat sekali menelfonku lagi.." kataku pada diriku sendiri.
"Hei.." kataku
"Kau di kantor?" katanya. Seperti biasa dengan nada suaranya yang pelan dan terdengar cuek.
"Ya. Aku sedang dalam lift sekarang. Bagaimana pertemuan keluargamu?"
"Baru akan dimulai," katanya terdengar akan melanjutkan perkataannya.
"Ada apa?" tanyaku yang mulai curiga jika terjadi sesuatu.
"Kau mencintaiku?" pertanyaannya membuatku ingin bertanya balik padanya.
"Tentu saja. Kau juga kan?"
"Hmm. Ya, aku juga tentunya." Kali ini terasa ia tetsenyum ketika mengucapkannya.
Aku juga ikut tersenyum mendengarnya.
Suara pintu lift terdengar, aku yakin Sehun juga mendengarnya.
"Sudah sampai ya? Kalau begitu sampai nanti."
"Mm.. sampai nanti." Kataku lalu mengakhiri panggilan.
Aku lagi-lagi merasa curiga pada Sehun. Tapi kecurigaan kali ini bukan kecurigaanku seperti tadi pagi. Ini lebih pada kecurigaan khawatir padanya.
Tapi aku tidak terlalu terkejut dengan hal ini. Aku sudah menduganya ketika Sehun bilang akan bertemu dengan keluarga besar Ayahnya.
Disana pasti terjadi sesuatu, entah apapun itu.
Keluarga Sehun sangat penuh dengan aturan, dan Sehun sebagai salah satu keturunan keluarga Oh yang selalu melanggar aturan.
Membuat Sehun selalu menjadi salah satu bahan pembicaraan mereka untuk masa depan keluarga Oh.
***
Aku keluar dari gedung tempatku bekerja, melepaskan tanda pengenalku lalu menyimpannya ke dalam tas.
Hari ini sangat melelahkan dari biasanya. Majalah yang sudah siap untuk di cetak tiba-tiba saja harus dibuat ulang karena muncul berita skandal mengenai modelnya.
Ternyata memang sudah seharusnya hari ini aku tidak pergi dengan Sehun. Jika bukan Sehun yang membatalkan janji kita, maka aku yang akan membatalkannya.
Diperjalanan pulang aku memutuskam untuk mampir ke minimarket yang searah dengan rumahku.
Membeli beberapa cemilan dan minuman untuk menemani malamku menuju hari libur besok.
Hahhh... aku sangat merindukan Sehun.
Aku menekan nomor pin pada pintuku.
Aku tersontak ketika seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang.
Melingkarkan tangannya pada perutku dan menumpukan dagunya pada pundakku secara bersamaan.
Tidak perlu menoleh untuk memastikan siapa orang itu. Dia sudah dipastikam Sehun. Aroma badannya sudah aku ingat. Begitu mudah diingat dan tidak mudah untuk dilupakan.
"Kenapa lama sekali?" Katanya sayu.
"Sejak kapan kau disini?" Tanyaku masih dalam pelukan Sehun.
"Baru saja."
Aku mengabaikan jawabannya yang terdengar asal. Lalu kembali menekan nomor pin pintu rumahku. "Ayo masuk," ajakku.
Sebelum aku melangkah, Sehun sudah berjalan sehingga membuatku terdorong karena masih dalam pelukannya.
Aku terkekeh dengan kelakuannya.
"Kau akan terus seperti?"
"Aku kedinginan menunggunu diluar," katanya. Sehun membalikkan tubuhku kemudian memelukku lagi. Memeluk sangat erat.
Aku membiarkan Sehun melakukannya toh aku juga merindukannya. "Kenapa tidak langsung masuk? Kau kan tahu nomor pin rumahku."
Untuk beberapa detik Sehun diam, aku juga ikut terdiam. Untuk beberapa saat kita hanya berpelukan. Saling merasakan suhu tubuh, mencium aromanya, dan mengobati rindu.
Entah apa yang membuatku begitu merindukannya hari ini. Tapi satu hal yang pasti, Sehun juga merindukanku.
**
Aku mengganti pakaianku dengan kaus dan celana oversizeku. Sehun juga mengganti setelah jas nya menjadi baju miliknya yang ada dirumahku.
Kita menyiapkan beberapa film dan camilan di ruang tengah untuk menemani kita malam ini.
Aku senang malam ini aku tidak sendirian. Semua bayanganku mengenai malam ini berubah ketika Sehun datang.
"Aku pikir kau akan berlaman di Daegu," kataku membuka pembicaraan. Tidak memperdulikan film yang sedang diputar.
"Seharusnya begitu." Jawab Sehun tanpa melihat padaku.
Begitulah Sehun, jika sedang menonton film ia akan sangat fokus pada setiap bagiannya. Ia tidak senang jika ada yang menggangunya menonton.
Aku kembali melihat ke layar televisi, lalu sesekali melihat pada Sehun. Aku salah memilih menonton film malam ini. Karena ternyata yang aku inginkan malam ini bukan hanya berada disampingnya, tapi juga mendengar suaranya, mendengar ceritanya, mendengar ocehannya.
"OK! Apa apa? Mau bicara apa?" Ucapnya tiba-tiba. Sehun menyadari penyesalanku memilih film.
"Ceritakan harimu," kataku cepat sambil tersenyum. Mengubah posisi dudukku menjadi melihat ke arahnya.
Sehun menghembuskan nafasnya keras. Seperti aba-aba ia akan berbicara banyak. "Ok. Tadi pagi tiba-tiba saja Kakekku meminta keluarga besar Oh berkumpul. Lalu kami semua sibuk membatalkan janji kami untuk hari ini. Lalu kami pergi ke Daegu." Katanya lalu ikut mengubah posisi duduknya menjadi ke arahku. "Sesampainya di Daegu kami semua pergi ke suatu ruangan 'rapat' keluarga Oh. La-"
"Ceritakan ruangan itu," pintaku memotong pembicaraannya.
Sehun menegakkan posisi duduknya, "Ruangan itu bukan ruangan rapat seperti di perusahaan atau kantor. Ini lebih seperti ruangan keluarga, dengan meja kecil, sofa sofa, karpet, dan sebagainya. Ruangan itu digunakan hanya jika kami akan 'rapat'."
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Yaa.. seperti biasa. Mengenai perusahaan. Mengenai penerus perusahaan. Yaah hanya seputar itu."
"Lalu apa yang kalian bicarakan hari ini?"
"Masih seputar itu juga."
"Perjodohan?" Kataku seketika membuat suasana terasa dingin.
Sehun terdiam sebentar, "Perjodohan apa?" Tanyanya balik.
Aku terkekeh mencairkan suasana. "Seperti di drama-drama. Pernikahan bisnis? Biasanya jika perusahaan mereka mau semakin besar kadang mereka menjodohkan anak-anak mereka dengan perusahaan lain. Hehe."
Sehun mengacak rambutku cepat, "Kau ini terlalu banyak menonton drama. Kau sebenarnya bekerja tidak sih?"
Aku menyipitkan mataku, seolah-olah menatap sinis pada Sehun. "Aku lebih sibuk dari kau tahu!"
Sehun kembali merubah posisi duduknya menjadi ke arah televisi. Lalu menarikku kedalam dekapannya.
"Sekarang waktunya menonton." Katanya. "Oh iya, kau harus mengubah nomor pin mu." Lanjutnya sambil menonton.
"Kenapa?" Tanyaku bingung. Berpikir apakah terjadi sesuatu padaku akhir-akhir ini.
"Agar tidak ada yang tahu."
"Tidak ada yang tahu. Selain aku dan kau."
"Kali ini beda. Hanya kau yang boleh tahu nonor pin rumahmu."
Aku menarik diri dari dekapan Sehun dan melihat Sehun dengan serius. "Kenapa?" Tanyaku lagi kali ini lebih tegas dan serius tapi juga khawatir.
"Ini rumahmu. Tentu saja hanya kau yang boleh tahu." Dia kembali melihat kearahku.
Sehun benar. Tapi tidak ada salahnya juga berbagi pin rumah dengan kekasihnya bukan?
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
Sehun terdiam melihatku.
-TBC-
Niatnya cuma mau bikin satu part aja, tapi ternyata belum sampe ke bagian utamanya part 1 udah panjang
See youuu!!!!


Comments
Post a Comment