Fall
Sebenernya sih ini cerpen tugas B.Indonesia. Tapi karena pengen iseng masukin cerita fiktif yaa... Dan sebenrnya juga ceritanya terinspirasi dari lagu, jadi jalan ceritanya terlalu terpaku sama liriknya. Kata aku sih ini geje dan aneh tapi rame jalan ceritanya. hehe. Happy reading aja yaaa :)
Cast : Oh Sehun a.k.a Stev
Bae Suzy a.k.a Hyemi
Biar aku ceritakan sebuah kisah. Tentang seorang wanita dan pria. Pria itu jatuh cinta pada sahabatnya saat wanita itu sedang tidak bahagia, karena wanita itu sedang patah hati dan itu membuat gadis itu buta akan cinta. Patah hati yang dialami gadis itu, membuat ia menjadi tidak pernah percaya dengan cinta lagi.
‘Apakah kau tau jika aku mencintaimu?’
Itulah kalimat yang pria itu ucapkan pada sahabatnya walaupun hanya dalam hati, saat mengetahui bahwa sahabatnya itu sedang patah hati yang mampu membuatnya tidak percaya lagi dengan cinta.
“Apa kau tidak mau bangkit untuk melupakan dan menyembuhkan patah hatimu itu?” tanya pria itu pada sahabatnya yang duduk tepat disebelah kanannya di bangku taman.
“Aku sendiri tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku sudah terlalu sakit diperlakukan seperti itu olehnya, aku tidak mau tersakiti lagi” jawab gadis itu.
“Tapi itu tidak bisa menghilangkan patah hatimu Hyemi”
Hyemi terdiam, dia menarik nafas panjang lalu membuangnya keras. Dia sudah lama mencoba untuk bangkit, tapi dia kesulitan dalam menjalaninya. Saat Hyemi mencoba untuk bangkit, pasti ada saja yang membuatnya jatuh lagi. Dia sendiri tidak tau apa yang harus dia lakukan lagi, dia sudah terlalu lelah hal ini.
“Aku tau itu, tapi aku sudah mencoba untuk bangkit tapi aku tidak bisa Stev” ucap Hyemi sedikit berteriak karena dia kesal, dia tidak kesal dengan Stev dia kesal dengan dirinya sendiri karena gagal untuk bangkit.
“Aku tau, itu pasti sulit untukmu. Maaf sudah memaksamu. Dia sangat berharga untukmu, benarkan? Aku tau itu” ucap Stev diakhiri dengan senyuman singkat.
“Kau tau, kau juga orang yang paling beraharga bagiku. Kau sahabat yang paling terbaik dan berharga bagiku” ucap Hyemi tulus pada sahabat prianya itu.
‘Kau tau, walaupun kau hanya mengatakan aku berharga bagimu hanya sebagai sahabat. Aku sangat senang, sangat senang.’
Itulah yang diucapkan Stev dalam hati pada saat Hyemi menyelesaikan ucapannya tadi.
“Aku tau aku sangat berharga bagimu! Hahaha” ucap Stev sambil tertawa, dia mencoba untuk membuat suasa menjadi lebih menyenangkan karena dia tidak mau ada dalam suasana yang canggung. Sebenarnya Stev ingin sekali mengucapkan ‘Terima Kasih’ atau mengatakan ‘Kau juga berharga bagiku Hyemi’ tapi Stev terlalu gengsi atau bisa juga disebut sebagai pecundang karena tidak berani mengatakan hal seperti itu.
“Cihh..” Hyemi berdecak sebal tapi dengan senyum yang bisa dibilang sebagai kebahagiaan. Disisi lain, Stev merasa sangat senang karena akhirnya Hyemi bisa kembali tersenyum senang karena sudah hampir 1 tahun sejak kekasihnya meninggalkan Hyemi, Hyemi tidak tertawa atau hanya sebatas tersenyum karena patah hatinya itu.
Dulu, jika Hyemi patah hati. Hanya butuh beberapara jam untuk menyembuhkannya. Tapi kali ini, 1 hari 1 malam pun tidak cukup untuk menyembuhkan hati Hyemi. Mungkin Stev sedikit mengerti dengan hal ini.
***
‘Apa Hyemi benar-benar mencintai pria itu?’
‘Apa cinta begitu besar dampaknya?’
‘Apa cinta harus menyakiti?’
Tiga pertanyaan itulah yang paling terngiang di dalam kepala Stev, entah untuk apa Stev memikirkan hal itu hanya saja Stev juga merasa sedih jika melihat sahabatnya sedih.
Sudah hampir 1 minggu sejak Hyemi dapat tersenyum kembali, dan sudah 1 minggu yang lalu juga Hyemi menghilangkan kembali senyumannya. Setelah kejadian itu, Hyemi pamit pada Stev untuk pulang saat itu Hyemi masing mengembangkan senyumannya. Tapi keesokan harinya saat diperjalanan menuju sekolah, Hyemi sudah menghilangkan senyumanya dan terlihat juga dari matanya yang bengkak mengartikan bahwa semalam ia menangis. Entah apa yang membuat Hyemi menangis tapi sepertinya Stev tau apa pengebabnya. Pria itu. Pria yang tega meninggalkan Hyemi dan membuat Hyemi menjadi hancur seperti ini.
***
“Hyemi! Apa kau mau pergi nonton? Katanya ada film baru, kita harus menontonnya!”
“Apa kau ingin menonton kartun favoritmu? Atau Frozen?”
“Apa kau ingin Bubble Tea?”
Beberapa pertanyaan sudah Stev tanyakan pada Hyemi, dan Hyemi hanya menjawab dengan jawaban yang sama,
“Aku sedang tidak mood” atau “Tidak, terima kasih”
Hanya itu dan terus itu yang Hyemi keluarkan dari mulutnya untuk menjawab pertanyaanku dan tawaran Stev. Stev memang sudah lelah untuk membuat Hyemi tapi Stev belum menyerah untuk membuat Hyemi merasa lebih baik.
“Hyemi,.. Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?” kali ini, Stev bertanya pada Hyemi dengan lembut.
“Aku sedang tidak mood”
Kali ini Stev sudah sangat kesal dengan jawaban Hyemi yang selalu itu, tapi Stev mencoba untuk sabar agar tidak tambah merusak mood Hyemi yang sudah hancur.
“Tapi kali ini sepertinya kau harus ikut pergi bersamaku” ucap Stev lirih.
“Aku seda...”
“Aku tau. Aku tau kau sedang tidak mood, aku tau itu. Kau sudah mengatakannya ribuan kali Hyemi” Stev memotong jawaban Hyemi, dia tidak marah ataupun kesal dia hanya ingin mepertegas atau mungkin menyadarkan Hyemi bahwa ia sudah mengatakan kalimat yang sama sejak tadi. Ya, Stev sedikit membentak Hyemi kali ini.
Hyemi sedikit tersentak dengan ucapan Stev yang tiba-tiba naik. Karena tidak biasanya Stev membentak Hyemi, jika dikatakan pertama kali ya. Ini pertama kali Stev membentak Hyemi.
“Maaf” ucap Stev sambil sedikit menundukkan kepalanya begitu menyadari Hyemi terkejut dengan ucapannya sebelumnya.
“Tidak apa-apa. Hanya saja... ini pertama kalinya” jawab Hyemi masih dengan nada yang datar.
“Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat, aku harap kali ini kau mau.”
“Hmm.., baiklah.”
***
“Kenapa kita kesini Stev?” tanya Hyemi, karena dia bingung dan takut untuk datang ke tempat ini. Bukan takut karena mungkin akan ada makhluk-makhluk halus tapi Hyemi takut jika dia menangis dan bahkan sakit hati lagi.
“Kau harus bertemu dengannya, aku pikir ini bisa menyembuhkan sakit hatimu karena merindukannya” ucap Stev lalu menyeret Hyemi menuju tempat pembaringan sang pria yang dimaksud.
“Aku tidak mau Stev” Hyemi dian ditempat dengan mata yang berkaca-kaca yang sudah siap mengeluarkan cairan bening dari matanya..., lagi.
“Kau harus bertemu dengannya, setelah dia meninggal kau belum bertemu dengannya lagi bukan? Mungkin dia juga merindukanmu”
Hyemi tidak menjawab pertanyaan Stev, tapi Hyemi lebih memilih untuk kembali berjalan menuju tempat pembaringan terakhir sang kekasihnya.
“Kau mungkin harus mengobrol dengannya, tidak apa-apa jika aku tinggal?” Hyemi hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Stev, yang berarti menyetujui Stev untuk meninggalkan Hyemi sendiri dulu ditempat tersebut.
Sudah hampir 2 jam Stev menunggu dan melihat Hyemi dari kejauhan yang sedang “berbicara” dengan kekasihnya itu yang kadang kadang tersenyum kemudian menangis, tapi lebih didominasi dengan tangisan.
1 jam kemudian Hyemi menghampiri Stev, kali ini dia tersenyum. Stev senang karena dengan cara ini akhirnya Hyemi bisa tersenyum lagi.
***
Pagi ini terasa sangat segar, mungkin karena kemarin Stev dapat melihat kembali senyuman Hyemi yang beberapa hari lalu telah hilang.
Saat Stev bangun dan akan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tiba-tiba ia melihat sebuah amplop berwarna biru langit. Stev tau itu bukan miliknya, tapi di amplop itu tertera namanya, ‘Untuk Sahabatku Stev’. Setelah melihat itu, Stev dengan buru-buru membuka amplopnya dan membaca surat yang berada di amplop tersebut.
Halo Stev!
Terima kasih karena selama 1 tahun ini kau sudah menghiburku, ya walaupun kau tau aku kadang susah untuk merasa terhibur. Tapi aku senang kau sudah mencobanya. Terima kasih juga atas segala nasehat yang kamu berikan padaku. Aku yakin itu dapat membantuku untuk bangkit.
Aku minta maaf jika selama 1 tahun ini aku selalu membuatmu repot, membuatmu sedih, atau mungkin membuatmu kesal karena sikapku yang berbeda 180 derajat.
Oh iya, terima kasih kau sudah mengajakku ke makan kekasihku. Kau tau, walaupun dia sudah pergi dari dunia ini, tapi bagiku dia belum pergi dari hatiku. Kau mungkin belum tau kenapa aku begitu mencintainya, yaa memang karena aku tidak mau mengatakannya padamu.
Tapi aku akan mengatakannya sekarang, dalam surat ini. Aku sangat mencintainya karena dia... Mirip sekali denganmu. Dulu, aku pernah menyukaimu.
Waktu itu aku ingin mengatakannya padamu, tak peduli apa resikonya, tapi tepat hari tiu juga kau mengatakan jika kau menyukai teman sebangkuku. Apa kau ingat? Kau juga memintaku untuk mendekatkanmu padanya.
Sepertinya, hanya itu yang aku ingin ungkapkan padamu. Sekali lagi, terima kasih atas semuanya. Aku menyayangimu, Sahabatku..
Ah iya, jika kau sudah membaca surat ini. Mungkin aku sudah tidak ada di negara ini lagi. Malam ini, tidak maksudku tadi malam aku pergi ke luar negeri untuk meneruskan kuliahku disana kau tidak perlu tau kemana tepatnya aku pergi karena aku pasti akan baik-baik saja. Dan aku harap dengan aku pergi ke luar negeri ini semoga aku bisa melupakan dan menyembuhkan patah hatiku ini. Seperti katamu, sepertinya aku harus cepat-cepat menyembuhkannya. Karena ini juga tidak baik bukan?
Selamat tinggal sahabatku. Tetap baik-baik disana. Jangan lupakan aku sebagai sahabat terbaikmu, aku menyayanyimu Sahabatku.
Semoga kita bisa bertemu lagi.
Sahabatmu,
Hyemi.
Stev jatuh, dia merasakan ada kekecewaan dalam hatinya. Ia tidak mampu berbuat apa-apa. Stev tidak tau kemana ia harus pergi untuk bertemu dengan Hyemi. Dia sangat menyesal karena tidak bisa menyadari jika Hyemi juga pernah menyukainya. Mungkin bagi Stev ini seperti karma untuknya.
END


Comments
Post a Comment